LONGSOR MAUT DI SUMEDANG SELATAN Satu Warga Tertimbun, Evakuasi Terkendala Medan Sempit dan Akses Terbatas

SUMEDANG, CyberTipikor — Bencana tanah longsor kembali mengguncang wilayah Kabupaten Sumedang. Peristiwa tragis tersebut terjadi di RT 01/RW 07, Kampung Ciranggon, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Sumedang Selatan, pada Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 18.30 WIB.

Hasil investigasi di lapangan pada Kamis (9/4/2026) menunjukkan kondisi lokasi longsor sangat memprihatinkan. Material tanah bercampur akar bambu dari tebing belakang permukiman menimpa sejumlah rumah warga.

Kronologi Kejadian: Hujan Deras Picu Longsor

Kepala Pelaksana BPBD Sumedang, Bambang Rianto, mengungkapkan bahwa longsor diduga kuat dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah tersebut sejak sore hari.

“Peristiwa terjadi sekitar pukul 18.30 WIB akibat curah hujan yang cukup tinggi,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Investigasi CyberTipikor menemukan bahwa struktur tanah di lokasi tergolong labil, diperparah oleh kontur tebing curam dan dominasi vegetasi bambu yang akarnya tidak mampu menahan beban tanah saat jenuh air.

Korban Jiwa dan Dampak Kerusakan

Dalam kejadian tersebut, satu warga dilaporkan meninggal dunia:

  • Pepen (63) — diduga tertimbun longsor saat berada di dalam rumah

Sementara itu, empat warga lainnya mengalami luka-luka:

  • Apong Suryani (56)
  • Eha (37)
  • Nizam (14)
  • Nazia (3)

Seluruh korban luka telah mendapatkan perawatan di RSUD Umar Wirahadikusumah dan diperbolehkan pulang.

Selain korban manusia, kerugian juga dialami warga lain:

  • Zeni — kehilangan kandang kambing tertimbun longsor
  • Dari 10 ekor kambing, hanya 1 ekor berhasil diselamatkan

Diduga kuat, korban Pepen saat kejadian tengah tertidur, sementara anggota keluarga lain berhasil menyelamatkan diri karena masih dalam kondisi terjaga.

Evakuasi Terkendala: Alat Berat Tak Bisa Masuk

Proses evakuasi yang melibatkan BPBD, TNI-Polri, Basarnas, serta warga setempat menghadapi kendala serius.

Akses menuju lokasi yang sempit dan berada di permukiman padat membuat alat berat tidak dapat digunakan.

“Kami sudah berupaya maksimal, namun akses terbatas membuat alat berat tidak bisa masuk ke lokasi,” jelas Bambang.

Sebagai solusi alternatif, tim gabungan:

  • Menggunakan tenaga manual
  • Memanfaatkan komunitas kendaraan off-road
  • Menarik material longsor berupa akar bambu secara bertahap

Namun, metode ini memperlambat proses pencarian korban.

Potensi Bahaya Susulan dan Mitigasi

Tim di lapangan juga menghadapi risiko tambahan:

  • Kondisi tanah masih labil
  • Potensi hujan susulan
  • Ancaman longsor susulan

BPBD melakukan langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan tim evakuasi.

“Cuaca masih berpotensi berubah sewaktu-waktu, sehingga keselamatan petugas menjadi prioritas,” tambah Bambang.

Catatan Investigasi CyberTipikor

Dari hasil penelusuran di lapangan, terdapat beberapa catatan penting:

  1. Permukiman terlalu dekat dengan tebing rawan longsor
  2. Minimnya sistem mitigasi seperti penahan tanah atau drainase lereng
  3. Akses evakuasi yang tidak memadai untuk kondisi darurat
  4. Belum optimalnya edukasi kesiapsiagaan bencana bagi warga

Hal ini menunjukkan perlunya evaluasi serius dari pemerintah daerah terkait tata ruang dan mitigasi bencana di wilayah rawan.

Imbauan dan Layanan Darurat

Pemerintah Kabupaten Sumedang mengimbau masyarakat:

  • Meningkatkan kewaspadaan saat hujan deras
  • Menghindari aktivitas di dekat tebing rawan longsor
  • Segera mengungsi jika muncul tanda-tanda pergerakan tanah

Laporan darurat dapat disampaikan melalui:

  • Call Center Pemda Sumedang: 122
  • Kepolisian: 110

Penutup

Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa bencana alam tidak hanya dipicu faktor cuaca, tetapi juga dipengaruhi oleh tata ruang dan kesiapan mitigasi.

CyberTipikor akan terus memantau perkembangan proses evakuasi serta langkah penanganan lanjutan dari pemerintah daerah.

(Diky - FMST | Laporan Investigasi CyberTipikor)

Posting Komentar

0 Komentar