Menu MBG di Kecamatan Cibugel Disorot, Orang Tua Siswa Keluhkan Buah Pir Diduga Tidak Layak Konsumsi


SUMEDANG, CyberTipikor –
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang, kembali menuai sorotan. Kali ini, sejumlah orang tua siswa mengeluhkan kondisi buah pir yang dibagikan kepada anak-anak sekolah karena diduga tidak layak konsumsi dan mengarah pada pembusukan.

Keluhan tersebut mencuat setelah tim CyberTipikor menerima dokumentasi lapangan berupa foto buah pir yang menunjukkan bercak cokelat kehitaman, kulit kusam, serta indikasi penurunan kualitas fisik. Buah tersebut merupakan bagian dari paket MBG yang diterima siswa.

Orang Tua Menolak Anak Mengonsumsi

Beberapa orang tua mengaku tidak mengizinkan anaknya mengonsumsi buah tersebut karena khawatir terhadap dampak kesehatan.

“Buahnya kelihatan sudah tidak segar, ada bercak dan baunya berbeda. Kami sebagai orang tua tentu khawatir kalau dikonsumsi anak,” ujar salah satu wali murid kepada CyberTipikor, sembari meminta identitasnya dirahasiakan.

Penolakan konsumsi ini menunjukkan bahwa tujuan MBG sebagai pemenuhan gizi justru tidak tercapai, karena makanan yang diterima tidak dikonsumsi oleh penerima manfaat.

Berpotensi Langgar Prinsip Keamanan Pangan

Dalam pedoman resmi MBG, keamanan pangan dan kelayakan konsumsi bahan makanan merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar. Buah yang dibagikan kepada anak sekolah wajib:

  • Segar,
  • Tidak rusak,
  • Aman dikonsumsi,
  • Melalui proses seleksi kualitas yang ketat.

Meskipun belum dilakukan uji laboratorium, indikasi visual dan keluhan orang tua menjadi sinyal awal adanya potensi kelalaian dalam proses pengadaan, penyimpanan, atau distribusi bahan pangan.

Indikasi Lemahnya Pengawasan Distribusi

CyberTipikor menilai, temuan ini mengarah pada dugaan lemahnya pengawasan dalam rantai distribusi MBG, mulai dari pengadaan buah, penyimpanan, hingga pendistribusian ke sekolah.

Buah pir termasuk komoditas yang rentan rusak jika penanganannya tidak sesuai standar, seperti suhu penyimpanan dan lama distribusi. Jika pengawasan tidak dilakukan secara ketat, risiko penurunan mutu sangat besar sebelum sampai ke tangan siswa.

Bukan Temuan Tunggal

Temuan di Kecamatan Cibugel ini bukan kasus berdiri sendiri. Sebelumnya, pelaksanaan MBG di sejumlah wilayah juga disorot publik akibat menu yang tidak sesuai pedoman gizi seimbang, termasuk penggantian makanan utama dengan snack kemasan dalam beberapa hari.

Hal ini memperkuat urgensi evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di tingkat daerah, agar tidak sekadar berorientasi pada penyaluran, tetapi juga pada kualitas dan keamanan konsumsi.

Desakan Evaluasi dan Klarifikasi

CyberTipikor mendorong agar:

  • Penyelenggara MBG di Kecamatan Cibugel melakukan evaluasi internal,
  • Standar kelayakan bahan pangan diperketat,
  • Pengawasan distribusi ditingkatkan,
  • Serta memberikan klarifikasi terbuka kepada publik.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara MBG setempat terkait keluhan buah pir yang diduga tidak layak konsumsi tersebut. CyberTipikor membuka ruang hak jawab dan akan memuat klarifikasi secara berimbang.

CyberTipikor menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis adalah program strategis nasional yang menyangkut kesehatan dan masa depan anak-anak. Oleh karena itu, setiap indikasi penurunan kualitas makanan wajib ditindaklanjuti secara serius, agar program tidak berubah menjadi sekadar formalitas distribusi tanpa menjamin keamanan dan manfaat gizi.

(Rahmat Setiawan)

Posting Komentar

0 Komentar